Disertasi Mely Pakaya Dorong Transformasi Puskesmas Berbasis Budaya Mutu Institusi

Oleh: Yanti Aneta . 1 April 2026 . 10:00:07

Gorontalo – Upaya peningkatan kualitas layanan kesehatan di tingkat Puskesmas kembali menjadi sorotan. Disertasi Doktoral yang dipresentasikan oleh Mely Pakaya mengungkap bahwa implementasi Total Quality Management (TQM) di Puskesmas Kabupaten Gorontalo masih belum berjalan optimal dan cenderung belum konsisten.

Ketua Tim Penguji Prof. Dr. Ir. Mahludin H. Baruwadi, M.P. (Mewakili Rektor Universitas Negeri Gorontalo); Sekretaris Prof. Dr. Ir. Hasim, M.Si Mewakili Direktur Program Pascasarjana UNG; Anggota Tim penguji Dr. Yanti Aneta, S.Pd., M.Si Co Promotor II sekaligus Koordinator Program Doktor Administrasi Publik; Promotor Prof. Dr. Asna Aneta, M.Si (Guru Besar UNG); Co-Promotor I Dr. Zuchri Abdussamad, S.I.K., M.Si (Dekan FIS UNG); Penguji Internal I Prof. Dr. Ismet Sulila, S.E., M.Si (Guru Besar UNG); Penguji Internal II Dr. Tineke Wolok, S.T., M.M (Dosen Tetap UNG); Penguji Eksternal Prof. Dr. Agus Sukristyanto, M.S. (Guru Besar Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya)

Penelitian tersebut menyoroti enam aspek utama dalam manajemen mutu, yakni komitmen manajemen, fokus pada masyarakat, keterlibatan pemangku kepentingan, peningkatan berkelanjutan, kemitraan, serta pengukuran kinerja. Hasilnya menunjukkan bahwa berbagai indikator tersebut belum terintegrasi secara sistemik dalam praktik pelayanan kesehatan sehari-hari.

“Masih terdapat kelemahan pada komitmen manajerial dan belum berkelanjutannya upaya peningkatan mutu layanan. Selain itu, keterlibatan stakeholder juga belum merata, serta sistem pengukuran kinerja belum terbangun secara terpadu,” ungkap Mely dalam pemaparan hasil penelitiannya.

Menurutnya, kondisi tersebut menunjukkan bahwa budaya mutu di lingkungan Puskesmas belum sepenuhnya terinternalisasi dalam sistem kelembagaan. Akibatnya, berbagai program peningkatan kualitas layanan masih berjalan secara parsial dan belum memberikan dampak optimal bagi masyarakat.

Sebagai solusi, penelitian ini menawarkan konsep Budaya Mutu Institusi yang mengintegrasikan pendekatan manajemen modern dengan nilai budaya lokal. Konsep ini menekankan empat aspek strategis, yaitu penguatan tata kelola berbasis komitmen manajemen, inovasi layanan berorientasi masyarakat, penguatan kolaborasi dan kemitraan, serta digitalisasi layanan dan pengukuran kinerja adaptif.

Koordinator Program Studi Doktor Administrasi Publik, Dr. Yanti Aneta, S.Pd., M.Si., menegaskan bahwa Disertasi ini memiliki nilai strategis dalam pengembangan keilmuan sekaligus praktik administrasi publik. “Penelitian ini sangat kontekstual dan relevan dengan kebutuhan daerah, khususnya dalam memperkuat sistem pelayanan kesehatan dasar. Integrasi antara pendekatan manajemen modern dan nilai budaya lokal menjadi keunggulan utama yang dapat mendorong transformasi kelembagaan secara lebih berkelanjutan,” ujarnya.

Ia juga menambahkan bahwa hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi rujukan bagi pemerintah daerah dan pengelola layanan kesehatan dalam merumuskan kebijakan yang lebih adaptif dan berbasis kebutuhan masyarakat. “Konsep Budaya Mutu Institusi yang ditawarkan bukan hanya memperkaya perspektif akademik, tetapi juga memiliki potensi implementatif yang kuat dalam mendorong peningkatan kualitas pelayanan publik,” tambahnya.

Sementara itu, Promotor, Prof. Dr. Asna Aneta, M.Si., menyampaikan pesan dan kesan atas proses akademik yang telah dilalui oleh promovenda. Ia mengungkapkan bahwa Mely Pakaya menunjukkan ketekunan, konsistensi, serta kedalaman analisis dalam menyelesaikan penelitian disertasinya. “Promovenda mampu mengangkat persoalan empiris yang nyata di lapangan dan mengelaborasikannya secara ilmiah menjadi sebuah konsep yang tidak hanya kuat secara teoritis, tetapi juga relevan secara praktis,” tuturnya.

Lebih lanjut, ia menekankan bahwa kekuatan utama Disertasi ini terletak pada keberanian mengintegrasikan nilai budaya lokal dalam kerangka manajemen modern. “Ini merupakan kontribusi penting, karena menunjukkan bahwa inovasi dalam administrasi publik tidak harus selalu bersumber dari luar, tetapi dapat tumbuh dari nilai-nilai lokal yang hidup di tengah masyarakat,” tambahnya.

Sementara itu, Mely berharap hasil penelitiannya dapat menjadi referensi bagi pemerintah daerah dan pengelola Puskesmas dalam memperbaiki sistem layanan kesehatan. “Budaya mutu harus menjadi bagian dari keseharian organisasi, bukan sekadar formalitas. Dengan begitu, pelayanan yang diberikan benar-benar mampu menjawab kebutuhan masyarakat,” jelasnya.

Menanggapi pentingnya penguatan budaya mutu, Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Gorontalo Bapak Dr. dr. Anang S. Otoluwa, MPPM dalam tulisannya berjudul "Budaya mutu, Antara Diseertasi dan Aksi" bahwa perubahan tidak cukup hanya bersifat administratif. “Budaya mutu bukan sekadar dokumen, bukan slogan yang ditempel di dinding, dan bukan pula hanya kepatuhan terhadap SOP. Budaya mutu adalah sesuatu yang hidup dalam tindakan-tindakan kecil yang dilakukan secara konsisten. Ia tercermin dalam kesediaan untuk tidak berhenti pada ‘tugas selesai’, tetapi terus melangkah hingga memastikan bahwa ‘tujuan benar-benar tercapai" pungkasnya.

Disertasi ini juga mengangkat nilai budaya lokal “Tilahepa Uohunaliyo aayita wolo lembo’a” yang bermakna menjaga dan menumbuhkan kualitas dalam kehidupan bersama. Nilai tersebut diharapkan dapat menjadi landasan moral dalam membangun sistem pelayanan kesehatan yang lebih humanis, adaptif, dan berkelanjutan.

Dengan adanya temuan ini, diharapkan transformasi mutu Puskesmas di Indonesia dan Provinsi Gorontalo khususnya dapat berjalan lebih terarah dan mampu meningkatkan kepercayaan masyarakat terhadap layanan kesehatan publik.

Agenda