Membangun Keunggulan Perguruan Tinggi Swasta Melalui Kolaborasi: Perspektif Interorganizational Relationship di Gorontalo

Oleh: Yanti Aneta . June 18, 2026 . 20:44:14

Gorontalo_Penelitian ini merupakan luaran akademik dari Disertasi Rizal, mahasiswa Program Doktor Administrasi Publik Program Pascasarjana Universitas Negeri Gorontalo, yang mengangkat tema “Strategi Interorganizational Relationship dalam Implementasi Pembelajaran Berbasis Kemitraan pada Perguruan Tinggi Swasta di Gorontalo.”

Sebagai karya ilmiah pada jenjang pendidikan Doktoral, penelitian ini telah melalui proses pengujian akademik yang ketat oleh tim penguji yang terdiri dari Prof. Dr. Ir. Mahludin H. Baruwadi, M.P. selaku Ketua Dewan Penguji, Prof. Dr. Ir. M.Si. selaku Sekretaris Dewan Penguji, Prof. Dr. Ansar Made, M.Si. sebagai Promotor, Prof. Dr. Sastro Mustapa Wantu, M.Si. sebagai Co-Promotor I, Dr. Yanti Aneta, S.Pd., M.Si. sebagai Co-Promotor II, serta Prof. Dr. Asna Aneta, M.Si., Dr. Fenti Prihatini Dance Tui, M.Si., dan Dr. Ir. Azis Rachman, S.T., M.M. selaku penguji Eksternal.

Melalui proses akademik tersebut, berbagai temuan, argumentasi, dan rekomendasi yang dihasilkan dalam penelitian ini telah memperoleh konseptual dan verifikasi ilmiah dari para pakar Administrasi Publik, tata kelola pendidikan tinggi, dan pengembangan kelembagaan, sehingga memberikan kontribusi yang signifikan bagi penguatan implementasi pembelajaran berbasis kemitraan pada Perguruan Tinggi Swasta di Provinsi Gorontalo.

Transformasi pendidikan tinggi melalui kebijakan Merdeka Belajar Kampus Merdeka dan program Kampus Berdampak telah mendorong perguruan tinggi untuk keluar dari pola pembelajaran konvensional.

Mahasiswa tidak lagi hanya belajar di ruang kelas, tetapi juga di dunia industri, instansi pemerintah, sekolah, desa, organisasi sosial, dan berbagai ruang publik lainnya. Konsekuensinya, keberhasilan perguruan tinggi kini sangat ditentukan oleh kemampuan membangun kemitraan dengan berbagai pihak.

Di Provinsi Gorontalo, fenomena tersebut menghadirkan realitas yang menarik. Hampir seluruh Perguruan Tinggi Swasta telah memiliki dokumen kerja sama dengan berbagai institusi, baik pemerintah daerah, dunia usaha dan industri, organisasi profesi, maupun lembaga masyarakat. Bahkan beberapa perguruan tinggi tercatat memiliki ratusan dokumen kerja sama yang secara administratif menunjukkan tingginya aktivitas kemitraan.

Namun, pertanyaan mendasar yang perlu diajukan adalah: apakah banyaknya dokumen kerja sama tersebut telah menghasilkan dampak yang nyata bagi mahasiswa?

Data menunjukkan bahwa tingkat partisipasi mahasiswa Perguruan Tinggi Swasta di Gorontalo dalam program-program pembelajaran berbasis kemitraan masih sangat bervariasi. Ada perguruan tinggi yang mampu mengirim puluhan mahasiswa mengikuti program MBKM, sementara perguruan tinggi lainnya masih menunjukkan partisipasi yang relatif rendah. Kondisi ini memperlihatkan bahwa banyaknya dokumen kerja sama belum tentu berbanding lurus dengan keberhasilan implementasi pembelajaran berbasis kemitraan.

Fenomena tersebut sesungguhnya menggambarkan adanya persoalan tata kelola kemitraan. Selama ini, sebagian perguruan tinggi masih memandang kerja sama sebagai instrumen administratif untuk memenuhi indikator akreditasi atau pelaporan kelembagaan. Akibatnya, hubungan yang dibangun sering kali berhenti pada penandatanganan Memorandum of Understanding (MoU) tanpa diikuti program yang konkret dan berkelanjutan.

Dalam perspektif Administrasi Publik, kondisi tersebut menunjukkan bahwa hubungan antarorganisasi belum berkembang menuju kolaborasi yang sesungguhnya. Banyak kemitraan masih berada pada level formalitas, sementara koordinasi program, pertukaran sumber daya, dan penciptaan manfaat bersama belum berjalan secara optimal.

Padahal, bagi Perguruan Tinggi Swasta di Gorontalo, kemitraan bukan sekadar pilihan, melainkan kebutuhan strategis. Dibandingkan perguruan tinggi besar di kota-kota utama Indonesia, sebagian besar PTS di Gorontalo menghadapi keterbatasan sumber daya, akses industri, jejaring riset, dan dukungan pembelajaran berbasis praktik. Oleh karena itu, keberhasilan kampus sangat bergantung pada kemampuannya membangun hubungan yang produktif dengan lingkungan eksternal.

Tantangan lain yang menarik adalah masih lemahnya kolaborasi antar-Perguruan Tinggi Swasta di Gorontalo sendiri. Padahal, dalam konteks pembangunan daerah, sesama perguruan tinggi seharusnya dapat saling melengkapi melalui pertukaran dosen, kolaborasi riset, pengembangan laboratorium bersama, maupun pelaksanaan program MBKM lintas kampus. Sayangnya, budaya kompetisi kelembagaan sering kali lebih dominan dibandingkan semangat kolaborasi.

Ke depan, Perguruan Tinggi Swasta di Gorontalo perlu mengubah paradigma kemitraan dari sekadar pendekatan administratif menuju pendekatan strategis. Ukuran keberhasilan tidak lagi ditentukan oleh banyaknya MoU yang ditandatangani, tetapi oleh jumlah mahasiswa yang memperoleh pengalaman belajar bermakna, jumlah inovasi yang dihasilkan bersama mitra, serta kontribusi nyata kampus terhadap pembangunan daerah.

Provinsi Gorontalo memiliki potensi besar sebagai laboratorium pembelajaran berbasis kemitraan. Sektor pertanian, perikanan, pariwisata, UMKM, pemerintahan desa, hingga pelayanan publik dapat menjadi ruang belajar yang kaya bagi mahasiswa. Namun potensi tersebut hanya dapat diwujudkan apabila perguruan tinggi mampu membangun hubungan yang didasarkan pada kepercayaan, kebutuhan bersama, dan komitmen jangka panjang.

Masa depan Perguruan Tinggi Swasta di Gorontalo tidak hanya ditentukan oleh kualitas kampus itu sendiri, tetapi juga oleh kualitas jejaring yang mampu dibangunnya. Sebab di era kolaborasi saat ini, kampus yang kuat bukanlah kampus yang bekerja sendiri, melainkan kampus yang mampu menghubungkan berbagai aktor untuk menciptakan manfaat bersama bagi masyarakat Gorontalo.

Agenda